Miris, sih. Kadang aku merasa sangat miris. Di saat banyak
orang dapat hidayah, hijrah, dan berpegang teguh pada iman dan jalan lurus
agama ini, yang banyak mendengar nasihat dari para asatidz, aku masih
terombang-ambing. Sebentar dengar ceramah, sebentar berhaluan kanan, lalu ke
kiri lagi. Adakalanya kembali terobsesi pada apa yang pernah kutonton.
Seperti banyak anak milenial, TV jadi temanku sejak kecil.
Walau kenyataannya keluarga kami beberapa kali jual dan beli TV. Sampai sempat
lama tidak punya TV, terus beli lagi, jual lagi, eh, dikasih TV sama tetangga.
Eh, beneran gak punya TV sampai sekarang.
Salah satu acara TV favoritku adalah Oprah Show. Dari sini
jadi tau Dr. Oz, tau buku Eat, Love, and Pray. Bahkan pernah nonton wawancara
Oprah di ruang gelap, hanya cahaya yang menerangi pewawancara dan yang
diwawancarai, yang seakan tidak boleh ada yang tahu dimana lokasi syuting
mereka.
Acara TV mempengaruhi setengah hidupku. Mulai dari anime,
film-film, dan wuxia; drama Cina/Hong Kong/Taiwan, drama Jepang, Korea, USA
(sitkomnya juga). Acara musik macam MTV. TV saat itu pusat informasi. Karena
semua itu juga mudah untuk bicara dengan orang atau teman yang punya minat di
spektrum sejauh antara Asia dan Amerika; dari ujung utara ke selatan Bumi.
Ngomongin Bollywood, hayuk. Aku bahkan pernah tidak menyangka ada teman kuliah
yang pernah menonton film yang ditayangkan di Trans TV hampir jam 3 pagi (you
know lah Bioskop Trans TV). Dia gak nyangka aku tau, aku juga apalagi. Itu
bukan film tentang action thriller atau superhero. Temanya cukup sensitif.
Tentang orang kulit hitam yang di penjara sambil menunggu waktu eksekusi di
kursi listrik. Tentang apa kalimat terakhirnya sebelum dieksekusi. Aku bahkan
lupa apa judulnya.
Sebenarnya, di luar jam sekolah dan kuliah, jam menontonku
wajar. Waktu SD, saat tidak ada TV di rumah, aku dan adikku nonton TV di rumah
sepupu kami (melewati lapangan badminton untuk sampai ke rumahnya). Saat ada TV
pun, lebih sering menonton saat sore. Apalagi pas kelas dua atau tiga SD aku
sempat masuk siang. Otomatis waktu nonton paling sering ya sore. Di saat sore
ini biasanya ada kartun.
Pas keluarga kami pindah ke Kuningan, saat aku awal kelas 4
SD, TV rumah yang termasuk inventaris Puskes, hanya menangkap sinyal Indosiar.
Jadi kalo sore pasti nonton drama Jepang atau Korea. Kadang malem nonton drama
Taiwan dan wuxia Cina. Pulang sekolah biasanya sambil makan siang nonton film
Hong Kong vampire.
Aku yang teratur harus tidur jam 9 (biasanya juga udah
ngantuk), biasanya punya waktu lowong buat nonton di weekend. Pas mondok,
kesempatan nonton hanya dua bulan dalam setahun: libur Lebaran dan kenaikan
kelas. Mungkin pas kuliah, saat kami sekeluarga pulang kota ke Depok, aku lebih
banyak nonton TV di akhir pekan. Tapi kalau sedang sibuk kuliah dan kegiatan
lain, aku jarang nonton. TV kadang nyala 24 jam kalo lupa dimatiin karena
ketiduran. Itu mungkin salah satu penyebab TV mati total dan tombol on/off nya
jebol.