Kage Bushin For Life

"Emang udah saatnya belajar kage bunshin," celetukku menyadari beberapa hal yang berubah dari seorang kenalan.

Punya satu tubuh, dua tangan dan kaki, seakan kurang jika melihat tanggung jawabnya. Umur sudah middle thirty, punya dua orang tua yang secara teknis sudah tidak bekerja dan ada nenek yang tinggal serumah sejak beberapa tahun terakhir. Berusaha menjaga dapur tetap ngebul kalo kata orang dulu jadi pegangannya untuk bekerja lebih keras. Dan sakit selama hampir lima hari ini dijadikannya sebagai cara Allah untuk membuatnya istirahat sebentar. Itu aja baru bener-bener bed rest sejak Rabu kemarin(Senin-Selasa masih kerja. Ini Jumat udah mau gawe lagi, padahal belum fit badannya). 
Katanya: "Gak enak. Orang ngeliatnya kayak tiduran mulu."
Kadang pengen mengejar cita-cita dan mimpi, tapi dia sadar sekarang bukan saatnya. Menjaga rumah agar rapi sesuai standar Ibunya, menyediakan kebutuhan pangan dan sandang setiap bulan, termasuk menyicil hutang keluarga yang mungkin baru bisa lunas sepuluh tahun lagi dan masalah domestik lainnya, membuatnya harus banyak berpikir mana prioritas saat ini. Dia selalu berusaha percaya segala sesuatu ada saatnya. Sanak saudara yang kadang berjumpa dengannya selalu mendoakan yang baik-baik. Entah karena mereka memgerti keadaannya atau memang karena terbiasa mendoakan siapa saja.
Kalau memang masih harus menjalani ini semua bertahun-tahun, dia setidaknya berusaha dan harus menyiapkan diri. Karena dia tahu setiap orang punya masalah dan beban masing-masing. Apa yang terjadi padanya harus diselesaikan satu-satu. Dan dia menjawab celetukan tadi.
"Iya, yah, kalo bisa mah udah belajar kage bunshin, deh."
Well, who knows apa yang akan terjadi di masa depan. I wish she is always happy and smile. I just miss her smile. A girl who always smile, curious, and bright, tiba-tiba terlihat suram, tapi selalu berusaha terlihat baik-baik saja. It's not good, but she thinks that good for her. She doesn't need the world to know. Noone must know anything about her circumstances. She just hopes to stay firm and move forward by her own self (sambil tetap berusaha menjadi topangan dan pondasi kedua orang tua dan neneknya).
Thank you for your hard work today. You did well, little one. When no one knows who you are or what you are up to, it's ok. There's always sky for you. One day, you'll have your own podium. You'll know nothing go to waste. You'll deserve it. Just you know how long and hard this journey is. You'll bleeding along the way. You can cry as much as you want. But it's ok, you aren't weak. It'll heal and your heart finds the way.
This quiet path, you know, people rarely choose it. It's an isolate journey. No one will take the risk. Yes, you're brave enough to face it. Like a never-ending tunnel, the abyss you've never ever known.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

I really thank you for looking and read my blog. Have a nice day! And always be a good person everyday

0 komentar:

Posting Komentar